Minggu, 19 Oktober 2014

Silaturahmi itu Memanjangkan Umur


Lebaran identik dengan silaturahmi. Kita menyempatkan diri untuk mengunjungi tetangga, keluarga, kerabat dan handai-taulan untuk saling bermaaf-maafan dan berbagi kebahagiaan. Banyak dari mereka yang kita temui di hari lebaran adalah orang yang mungkin hanya bertemu setahun sekali dengan kita.
Silaturahmi memang paling banyak dilakukan di masa lebaran, namun sebenarnya kita dianjurkan untuk rajin bersilaturahmi sepanjang tahun (tidak hanya terbatas di masa lebaran) dan dilarang untuk memutuskan silaturahmi. Ada hadits (perkataan Nabi Muhammad SAW) yang menganjurkan kita agar rajin bersilaturahmi, karena silaturahmi memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki. Sedemikian pentingnya silaturahmi, sampai-sampai orang yang memutus silaturahmi terancam masuk neraka.
Memperpanjang Umur
Dengan bersilaturahmi, kita akan lebih bahagia. Hanya dengan mengirimi sms, pesan bbm atau email, orang yang kita sapa akan merasa bahagia. Terlebih lagi bila kita telepon atau kunjungi. Bayangkanlah roman muka sahabat Anda yang berbinar lantaran Anda menyempatkan mampir ke rumahnya. Juga, nada bahagia ibu Anda mendengar suara cucunya lewat telepon. Kebahagiaan seperti itu mengurangi stres dan memperpanjang umur. Antara tahun 1965- 1974, dua ahli epidemi penyakit mempelajari gaya hidup dan kesehatan 4.725 penduduk Alameda County, California. Mereka menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang ‘kuper’ dibandingkan dengan mereka yang aktif secara sosial. Studi yang sama terhadap penduduk Seattle, dipublikasikan tahun 1997, menemukan bahwa pasangan keluarga yang secara sosial aktif membutuhkan biaya kesehatan lebih rendah dan lebih jarang sakit dibandingkan mereka yang penyendiri.
Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturahmi dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan. Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stres epinefrin/norepinefrin dan kortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oksitosin dan vasopresin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturahmi memicu dua neurotransmitter penting: dopamin, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin, yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.

Sumber: MajalahKesehatan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar